Tatra kho āyasmā sāriputto bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu:
There Sāriputta addressed the mendicants:
Khotbah tentang Kematian yang Baik
Dalam sutta ini, Sāriputta mengajak kita merenungkan bagaimana cara hidup sehari-hari dapat memengaruhi akhir hidup kita. Mari kita simak dengan tenang, bagaimana ia membedakan dua jalan hidup yang membawa akibat berbeda.
Dalam khotbah ini, Yang Mulia Sāriputta menjelaskan kepada para bhikkhu tentang dua cara hidup yang menentukan kualitas kematian seseorang. Ia menguraikan bahwa seorang bhikkhu yang bersenang dalam pekerjaan, pembicaraan, tidur, pergaulan, keakraban, dan proliferasi tidak akan memiliki kematian yang baik, karena ia belum melepaskan kepribadian (sakkāya). Sebaliknya, bhikkhu yang tidak bersenang dalam hal-hal tersebut, melainkan bersenang dalam Nibbāna, akan memiliki kematian yang baik, karena ia telah melepaskan kepribadian untuk mengakhiri penderitaan.
Tatra kho āyasmā sāriputto bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu:
There Sāriputta addressed the mendicants:
“āvuso bhikkhave”ti.
“Sahabat-sahabat, para bhikkhu!”
“Reverends, mendicants!”
“Āvuso”ti kho te bhikkhū āyasmato sāriputtassa paccassosuṁ.
“Sahabat,” jawab para bhikkhu itu kepada Yang Mulia Sāriputta.
“Reverend,” they replied.
Āyasmā sāriputto etadavoca:
Yang Mulia Sāriputta berkata demikian:
Sāriputta said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.