“Etha tumhe, sāḷhā, mā anussavena, mā paramparāya, mā itikirāya, mā piṭakasampadānena, mā takkahetu, mā nayahetu, mā ākāraparivitakkena, mā diṭṭhinijjhānakkhantiyā, mā bhabbarūpatāya, mā samaṇo no garūti.
“Mari, Sāḷha, janganlah kalian mengikuti tradisi lisan, janganlah mengikuti garis keturunan, janganlah mengikuti kabar angin, janganlah mengikuti otoritas kitab suci, janganlah mengandalkan logika, janganlah mengandalkan penalaran, janganlah mengikuti pemikiran yang matang, janganlah menerima pandangan setelah dipertimbangkan, janganlah terpengaruh oleh penampilan yang tampak cakap, dan janganlah berpikir ‘Pertapa adalah guru kita yang dihormati.’
“Please, Sāḷha and friend, don’t go by oral transmission, don’t go by lineage, don’t go by testament, don’t go by canonical authority, don’t rely on logic, don’t rely on inference, don’t go by reasoned train of thought, don’t go by the acceptance of a view after deliberation, don’t go by the appearance of competence, and don’t think ‘The ascetic is our respected teacher.’