Ekaṁ samayaṁ āyasmā ānando rājagahe viharati tapodārāme.
Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda berdiam di Rājagaha, di Vihara Sumber Air Panas.
At one time Venerable Ānanda was staying near Rājagaha in the Hot Springs Monastery.
Kokanuda
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita sering terjebak dalam perdebatan pandangan. Melalui percakapan yang tenang dan tajam antara Ānanda dan Kokanuda, kita diajak untuk melihat bahwa kebijaksanaan sejati justru melampaui semua kerangka berpikir yang kaku.
Suatu pagi, Yang Mulia Ānanda bertemu dengan pengembara Kokanuda di sumber air panas Rājagaha. Kokanuda menguji Ānanda dengan serangkaian pertanyaan tentang pandangan-pandangan spekulatif, seperti apakah dunia ini kekal atau tidak, dan apakah seorang Tathāgata ada setelah kematian. Ānanda dengan tenang menjawab bahwa semua itu bukanlah pandangannya, namun ia tetap mengaku mengetahui dan melihat. Ia menjelaskan bahwa ia memahami seluruh cakupan pandangan, landasannya, hingga cara mencabutnya, sehingga ia tidak perlu terikat pada salah satu pandangan ekstrem tersebut.
Ekaṁ samayaṁ āyasmā ānando rājagahe viharati tapodārāme.
Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda berdiam di Rājagaha, di Vihara Sumber Air Panas.
At one time Venerable Ānanda was staying near Rājagaha in the Hot Springs Monastery.
Atha kho āyasmā ānando rattiyā paccūsasamayaṁ paccuṭṭhāya yena tapodā tenupasaṅkami gattāni parisiñcituṁ.
Kemudian, pada larut malam, Yang Mulia Ānanda bangun dan pergi ke sumber air panas untuk mandi.
Then Ānanda rose at the crack of dawn and went to the hot springs to bathe.
Tapodāya gattāni parisiñcitvā paccuttaritvā ekacīvaro aṭṭhāsi gattāni pubbāpayamāno.
Setelah mandi dan keluar dari air, beliau berdiri dengan satu jubah, mengeringkan anggota tubuhnya.
When he had bathed and emerged from the water he stood in one robe drying his limbs.
Kokanudopi kho paribbājako rattiyā paccūsasamayaṁ paccuṭṭhāya yena tapodā tenupasaṅkami gattāni parisiñcituṁ.
Pengembara Kokanuda juga bangun pada larut malam dan pergi ke sumber air panas untuk mandi.
The wanderer Kokanada also rose at the crack of dawn and went to the hot springs to bathe.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.